Miguel Panduwinata, keponakan penyanyi Vina Panduwinata, adalah salah satu korban pesawat MH17 jurusan Amsterdam Kuala Lumpur yang ditembak di perbatasan Ukrainia oleh tentara separatis pro Rusia bulan Juli 2014.
Miguel seperti sudah mendapat firasat akan terjadi sesuatu dengan perjalanannya. Semalam sebelum keberangkatannya, Miguel yang biasanya ceria, terlihat risau. 'How would you choose to die?', 'What would happen to my body if I was buried?', 'Would I not feel anything because our souls go back to God?'. Ini adalah pertanyaan pertanyaan yang keluar dari Miguel yang berumur sebelas tahun. Samira, ibu Miguel, berusaha menenangkannya dengan mengingatkan Miguel bahwa dia sudah sering bepergian naik pesawat. "Everything's going to be OK", jawabnya.
Ternyata yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tidak pernah diduga oleh siapapun. Tanggal 17 Juli 2014, pesawat MH17 ditembak jatuh oleh tentara pro separatis sekitar 50 km dari perbatasan Ukrainia – Rusia. Pesawat kemudian jatuh di Torez, Donetsk Oblast – Ukrainia, membunuh 283 penumpang dan 15 crew. Termasuk diantaranya 193 warga negara Belanda, 43 Malaysia, dan 27 Australia.
Pengkhotbah berkata, 'Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bahkan Ia memberi kekekalan dalam hati manusia. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekejaan yang dilakukan Tuhan dari awal sampai akhir.' (Pengkhotbah 3:11).
Dorongan hati Miguel adalah bisikan Tuhan untuk mencariNya pada saat terakhir. Kenyataannya, siapapun orang yang lahir di bumi, siapa orang tuanya, di mana dia dilahirkan, setiap orang dilahirkan dengan suatu kekosongan di dalam hati mereka. Manusia berbuat berbagai macam cara untuk mengisi kekosongan itu. Agama, perbuatan baik, kesibukan, adalah bentuk usaha yang dibuat manusia untuk mengisi kekosongan itu. Banyak orang tidak mengerti bahwa kekosongan yang mereka alami adalah karena dosa. Dosa mula mula yang dilakukan oleh Adam dan Hawa terbawa oleh setiap keturunannya, yaitu kaum manusia. Dosa menyebabkan terputusnya hubungan manusia dan Tuhan. Upah dosa adalah maut, dan tidak ada perbuatan sebaik apapun yang bisa menghapus dosa manusia dan membuatnya layak di hadapan Tuhan.
Hanya kasih Bapa di sorgalah yang membuatNya mengirimkan anakNya yang tunggal, Tuhan Yesus, untuk mati sebagai penebus dosa manusia. Karena Tuhan Yesus tidak pernah dikotori oleh dosa, bahkan semasa hidupnya di bumi, Dia layak mati sebagai persembahan yang kudus. Hanya orang yang menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat dalam kehidupannya akan bersama sama dengan Tuhan dalam kekekalan.
Yang terjadi pada Miguel, apakah dia bertemu dengan Tuhan Yesus pada akhirnya, hanya Tuhan dan Miguel yang tahu. Saya berharap, dari 296 penumpang lain dalam pesawat itu, ada satu yang mendengarkan panggilan Roh Kudus untuk menyampaikan kabar baik Tuhan Yesus kepada Miguel dan kakaknya.